Posted in

BMPC Bangun Ekosistem Pertanian Terintegrasi, Sekjen: Petani Keerom Didorong Naik Kelas

KEEROM — Pengembangan pertanian jagung di Kabupaten Keerom terus diarahkan menuju pola yang lebih terencana dan berkelanjutan. Bukan hanya sekedar mengejar produksi, Koperasi Bina Mandiri Papua Cerah (BMPC) mulai membangun ekosistem pertanian yang menghubungkan petani dengan dukungan sarana produksi, pendampingan, perbankan hingga pengelolaan hasil.

Sekretaris Jenderal Koperasi BMPC Provinsi, Laurensius Tukan, mengatakan program kerja koperasi disusun dengan pendekatan dari hulu hingga hilir. Menurutnya, petani membutuhkan sistem yang jelas agar kegiatan pertanian tidak berjalan sendiri.

“Program BMPC bukan hanya memberikan benih atau pupuk. Kita ingin membangun satu sistem. Mulai dari persiapan lahan, penyediaan sarana produksi, penanaman, pendampingan petani, pencatatan dan administrasi, akses perbankan, sampai bagaimana hasil produksi selanjutnya dikelola dan dipasarkan,” ujar Laurensius.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya BMPC mendorong petani untuk semakin memahami pertanian sebagai sebuah usaha. Oleh karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari program, termasuk mendorong petani mengenal administrasi dan layanan perbankan.

Keterlibatan Bank BNI dalam kegiatan di lapangan, menurut Laurensius, menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan petani dengan sistem ekonomi formal.

“Kita ingin petani tidak hanya kuat di bidang lahan, tetapi juga kuat dalam administrasi dan pengelolaan usaha. Ketika petani memiliki pembukuan, memiliki pencatatan yang baik dan memahami arus keuangan, mereka mulai membangun fondasi usaha pertanian yang lebih profesional,” katanya.

Dalam kegiatan 24 September 2026 tersebut, BMPC kembali mendukung penanaman jagung di lahan seluas 2 hektare sekaligus menyalurkan benih dan pupuk kepada petani.

Bagi BMPC, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Petani tidak hanya diberikan sarana produksi, tetapi juga diarahkan untuk memahami proses budidaya dan pengelolaan hasil secara lebih terukur.

Laurensius menegaskan bahwa keberhasilan program tidak dapat dibebankan hanya kepada koperasi. Diperlukan keterlibatan petani, pemilik hak ulayat, perbankan, dunia usaha, pemerintah dan unsur pendamping lainnya.

“Kita sedang membangun ekosistem. Petani adalah pelaku utamanya. Koperasi menjadi penghubung dan penggerak, perbankan memberikan akses layanan keuangan, sementara pendampingan dari berbagai pihak membantu masyarakat mendapatkan edukasi. Semua ini harus berjalan bersama,” jelasnya.

Saat ini, program pelatihan BMPC telah menjangkau petani jagung di sejumlah wilayah Papua. Dengan jumlah petani yang terus berkembang, koperasi melihat adanya peluang untuk membangun pertanian masyarakat dalam skala yang lebih besar sekaligus memperkuat rantai ekonomi lokal.

Menurut Laurensius, target pada akhirnya bukan sekedar meningkatkan jumlah hektar yang ditanam, namun menciptakan petani yang mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

“Yang kita bangun bukan hanya tanaman jagung. Kita sedang membangun manusianya, cara berpikirnya dan sistem usahanya. Kalau petani memiliki kemampuan produksi sekaligus mengelola usaha, maka kemampuan pertanian bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Papua,” tutupnya.

Dari lahan Keerom, BMPC mendorong pertanian bergerak dari sekadar aktivitas yang cocok menanam menuju sebuah ekosistem usaha—terencana, produktif, terhubung dengan perbankan dan berfokus pada kesejahteraan petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *